oleh

Sekolah Tatap Muka Dibuka Januari 2021” Nadiem : Tapi Ada Syarat

-Pendidikan-205 views
banner 728x90

Bungascyber.id, JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim memberikan kebijakan dalam proses belajar di Tanah Air, secara tatap muka. Namun, harus memenuhi persyaratan yang harus dipatuhi. Diketahui, jika saat ini, sekolah di Tanah Air diliburkan karena adanya pandemi Covid-19, yang belum tahu kapan akan berakhir.

“Jadinya bulan Januari 2021. Jadi daerah dan sekolah, diharapkan dari sekarang, kalau siap melakukan tatap muka. Dan, kalau ingin melakukan tatap muka, harus segera meningkatkan kesiapannya untuk melaksanakan ini, dari sekarang sampai akhir tahun,” jelas Nadiem, Jumat (20/11/2020) lalu, lewat akun YouTube Kemendikbud RI.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipatuhi dalam sekolah tatap muka, yang kembali dibuka ini. Seperti, Ada izin dari tiga pihak, Sekolah penuhi daftar periksa, Terapkan protokol baru dengan ketat dan dukungan dari semua orang.

Masih dikatakannya, mulai Januari 2021, ada tiga pihak yang menentukan sekolah tersebut, boleh melakukan pembelajaran tatap muka atau tidak. Yaitu, pemda, kanwil, kantor Kemenag, kepala sekolah, dan perwakilan orangtua, melalui komite sekolah.

“Jika tiga pihak ini tidak mengizinkan sekolah itu buka, sekolah itu tidak diperkenankan untuk dibuka,” jelas Nadiem.

Akan tetapi, Ia menambahkan, orangtua masih memiliki hak untuk memutuskan memperkenankan anaknya datang ke sekolah atau tidak. Kepala daerah juga memiliki kewenangan untuk dapat memberikan perizinan sekolah tatap muka secara serentak maupun bertahap.

“Jadi fleksibiltias ini diberikan berdasarkan evaluasi pemda terhadap tingkat keamanan, kesehatan Covid-19 di daerahnya masin-masing,” tegas Nadiem.

Untuk melakukan pembelajaran tatap muka, sekolah harus memenuhi beberapa daftar periksa yang sama, seperti surat keputusan bersama sebelumnya. Hal ini merupakan daftar periksa yang semuanya harus dipenuhi oleh sekolah, supaya bisa melakukan pembelajaran tatap muka.

Seperti, Ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan, seperti toilet bersih dan layak, adanya sarana cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, dan disinfektan. Selanjutnya, Mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Juga, Kesiapan menerapkan wajib masker.

Dan, Memiliki thermogun, serta Memiliki pemetaan warga satuan pendidikan yang memiliki komorbid tidak terkontrol, tidak memiliki akses terhadap transportasi yang aman, hingga memiliki riwayat perjalanan dari daerah dengan tingkat risiko Covid-19 yang tinggi atau riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri. Terakhir, Mendapatkan pesertujuan komite sekolah atau perwakilan orangtua atau wali.

BACA JUGA :  ANBK Secara Mandiri Dilaksanakan Siswa-siswi SDN Malangnengah 3

“Sekolah itu boleh tatap muka kalau mereka mau, baru kita masuk ke dalam protokol yang baru. Jadi protokolnya bukan seperti masuk sekolah normal,” imbuhnya.

Nadiem mendapati, bahwa masih banyak mispersepsi di masyarakat bahwa pembelajaran tatap muka seperti masuk sekolah biasa.

“Ini tidak benar dan juga mohon bantu disosialisasikan di masing-masing daerah bahwa kalaupun sekolah itu sudah memenuhi semua kriteria dan check list untuk melaksanakan tatap muka, protokol kesehatan yang ketat harus masih dilaksanakan,” lanjutnya.

Nadiem berharap adanya dukungan dari semua pemangku kepentingan untuk melaksanakan keputusan bersama ini, agar bisa sukses.

“Seluruh pemangku kepentingan harus mendukung untuk ini menjadi sukses, baik pemerintah pusat, satgas, masyarakat sipil, sekolah, dan orangtua ini luar biasa pentingnya peran mereka dalam melakukan monitoring (pengawasan) dan evaluasi untuk menjaga keamanan siswa siswi kita, guru-guru kita, orangtua, dan tentunya nenek kakeknya anak-anak yang tinggal di rumahnya mereka juga,” jelas Nadiem.

Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan dan perhubungan juga harus berkoordinasi untuk memastikan bahwa peserta didik, dapat kembali ke sekolah dengan keamanan serta kesehatan yang terjaga.

Nadiem juga berharap, agar keputusan ini dapat memberikan harapan untuk peserta didik dan pendidik yang sulit melaksanakan PJJ. Meski membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri dan memenuhi syarat, tetapi Nadiem menuturkan bahwa lebih baik mulai dari sekarang untuk memasuki era normal baru.

“Kalau kita tidak mulai sekarang, memasuki dan berlatih melakukan new normal (normal baru) ini, saya rasa lost of learning (kehilangan pembelajaran) dan risiko psikososial kepada satu generasi anak-anak kita di Indonesia bisa menjadi permanen dan itu suatu risiko yang kita harus tangani segera,” tutup Nadiem. (BB/RED).

banner 300250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga